Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) 2024
-
Rilis:
27/01/2026 -
File:
0 Files -
Ukuran:
N/A
Visualisasi
Produk
Berdasarkan data BPS tahun 2024, jumlah pemuda di Indonesia (usia 16-30 tahun) mencapai sekitar 64,22 juta jiwa atau seperlima dari jumlah penduduk Indonesia. Meskipun tidak mendominasi proporsi penduduk Indonesia, namun jumlah pemuda yang cukup besar ini harus menjadi modal besar bagi peningkatan investasi, inovasi, kemajuan dan pembangunan bangsa yang 10 tahun terakhir telah menggunakan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) sebagai alat pemantauan kemajuan pembangunan pemuda tersebut. Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) pada periode 2015–2024 menunjukkan tren yang cenderung fluktuatif, namun secara umum tetap mengalami peningkatan. Sejak tahun 2015, IPP meningkat dari 48,67, menjadi 58,33 pada tahun 2024, atau meningkat sebesar 9,66 poin. Capaian tersebut melampaui target akhir RPJMN 2020–2024 sebesar 57,67. Meski demikian, laju kenaikan IPP tergolong lambat dan kurang signifikan, karena dalam kurun 10 tahun terakhir rata-rata peningkatannya tidak lebih dari 1 poin per tahun. Namun, pencapaian target RPJMN patut diapresiasi sebagai bukti adanya progres nyata dalam pembangunan pemuda di Indonesia. Capaian pembangunan pemuda antar daerah di Indonesia cukup bervariasi dengan nilai berkisar 53,33 hingga 74,83. Dari 34 Provinsi sebanyak 7 Provinsi memiliki capaian di atas capaian nasional, 1 Provinsi memiliki capaian yang sama dan 10 provinsi memiliki capaian di bawah capaian nasional. Adapun tiga provinsi dengan peningkatanIPP terbesar yakni provinsi Kepulauan Riau, provinsi Bali dan provinsi DKI Jakarta. Secara umum, daerah memiliki keunggulan pada dimensi kesehatan dan kesejahteraan terutama indikator persentase pemuda korban kejahatan dan memiliki kelemahan pada domain pendidikan terutama indikator angka partisipasi kasar perguruan tinggi, hal ini mayoritas daerah memiliki kecenderungan capaian yang menurun atau stagnan dan di bawah capaian nasional. Pada periode pembangunan 2025-2029, kerangka kebijakan pembangunan pemuda memiliki penekanan yang berbedadibandingkan sebelumnya, sehingga di tahun 2024 telah dilakukan peninjauan ulang terhadap IPP untuk memastikan bahwa ukuran tersebut mampu merefleksikan capaian pembangunan pemuda dan mengangkat dinamika situasi pemuda saat ini. Pembaharuan tersebut mencakup struktur, ruang lingkup, indikator penyusun, definisi operasional, metodologi penghitungan, dan disagregasi datanya. Dengan adanya perbedaan tersebut maka IPP metode lama tidak dapat diperbandingkan dengan IPP metode baru. IPP metode baru terdiri dari 3 lapisan pembangunan, lima domain pembangunan pemuda yaitu: 1) domain pendidikan dan pelatihan; 2) domain kesehatan; 3) ketenagakerjaan layak; 4) domain partisipasi dan kepemimpinan; serta 5) domain inklusivitas dan kesetaraan gender dengan 16 indikator penyusunnya. Metode pengukurannya tidak lagi melalui proses normalisasi data dengan metode desil namun menggunakan metode persentil dan terdapat pembobotan pada setiap indikator maupun domain. Selain itu IPP metode baru dapat diagregasikan di tingkat Provinsi maupun Kab/Kota. Adapun capaian IPP metode baru tahun 2024 sebesar 62,88 meningkat jika dibandingkan tahun 2023 sebesar 60,59. Capaian domain Kesehatan menjadi yang terbesar dibandingkan dengan domain lainnya yaitu 69,34, kemudian domain pendidikan dan pelatihan sebesar 69,11, domain inklusivitas dan gender sebesar 64,14, domain ketenagakerjaan layak sebesar 63,31 dan yang paling perlu mendapat perhatian adalah domain partisipasi dan Kepemimpinan sebesar 48,24. Sedangkan pada tingkat provinsi, terdapat sebanyak 17 provinsi dari 38 provinsi memiliki capaian di atas capaian nasional dan 21 provinsi memiliki capaian di bawah capaian nasional. Senada dengan metode lama, secara umum pada IPP metode baru daerah memiliki keunggulan pada domain kesehatan dan kesejahteraan terutama pada indikator angka kesakitan pemuda dan memiliki kelemahan pada domain partisipasi dan kepemimpinan terutama pada indikator persentase pemuda yang aktif organisasi, hal ini dikarenakan mayoritas daerah masih memiliki capaian di bawah capaian nasional. Mengingat IPP metode baru telah ditetapkan sebagai tolok ukur pembangunan pemuda dalam RPJMN 2025–2029, maka diperlukan a) penguatan sinkronisasi dan integrasi kebijakan pembangunan kepemudaan antara pusat dan daerah melalui RAN dan RAD Pelayanan Kepemudaan; b) Pemerintah daerah yang telah memiliki RAD perlu segera melakukan penyesuaian program/intervensi dan target capaian, sedangkan daerah yang belum menyusun diharapkan segera menyusunnya sesuai amanat Peraturan Presiden tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan, serta memastikan pelaksanaannya berjalan secara optimal; c) Koordinasi lintas sektor perlu diperkuat melalui asistensi teknis dan pemantauan berkelanjutan dengan pendekatan kolaboratif; dan d) Peran aktif setiap pemangku kepentingan dalam menjaga konsistensi capaian, serta mendorong peningkatan capaian pada domain yang masih lemah melalui program/kegiatan yang relevan, terukur, dan berkelanjutan; e) membangun kesadaran, komitmen dan political will agar kebijakan dan program kepemudaan menjadi agenda strategis yang berorientasi pada peningkatan kualitas generasi muda.
Dataset
Berdasarkan data BPS tahun 2024, jumlah pemuda di Indonesia (usia 16-30 tahun) mencapai sekitar 64,22 juta jiwa atau seperlima dari jumlah penduduk Indonesia. Meskipun tidak mendominasi proporsi penduduk Indonesia, namun jumlah pemuda yang cukup besar ini harus menjadi modal besar bagi peningkatan investasi, inovasi, kemajuan dan pembangunan bangsa yang 10 tahun terakhir telah menggunakan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) sebagai alat pemantauan kemajuan pembangunan pemuda tersebut. Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) pada periode 2015–2024 menunjukkan tren yang cenderung fluktuatif, namun secara umum tetap mengalami peningkatan. Sejak tahun 2015, IPP meningkat dari 48,67, menjadi 58,33 pada tahun 2024, atau meningkat sebesar 9,66 poin. Capaian tersebut melampaui target akhir RPJMN 2020–2024 sebesar 57,67. Meski demikian, laju kenaikan IPP tergolong lambat dan kurang signifikan, karena dalam kurun 10 tahun terakhir rata-rata peningkatannya tidak lebih dari 1 poin per tahun. Namun, pencapaian target RPJMN patut diapresiasi sebagai bukti adanya progres nyata dalam pembangunan pemuda di Indonesia. Domain dan Indikator IPP metode lamaD1= Indeks Domain PendidikanX1 = Rata-rata lama sekolah (sumber data : Susenas)X2 = APK sekolah menengah (sumber data : Susenas)X3 = APK perhuruan tinggi (sumber data : Susenas)D2 = Indeks Domain Kesehatan dan KesejahteraanX4 = Angka kesakitan pemuda (sumber data : Susenas)X5 = Persentase korban kejahatan (sumber data : Susenas)X6 = Persentase pemuda yang merokok (sumber data : Susenas)X7 = Persentase remaja perempuan yang sedang Hamil (sumber data : Susenas)D3 = Indeks Domain Lapangan dan Kesempatan KerjaX8 = Persentase pemuda wirausaha kerah putih (sumber data : Sakernas)X9 = Tingkat pengangguran terbuka (sumber data : Sakernas)D4 = Indeks Domain Partisipasi dan KepemimpinanX10 = Persentase pemuda yang mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan (sumber data : Susenas)X11 = Persentase pemuda yang aktif dalam organisasi (sumber data : Susenas MSBP)X12 = Persentase pemuda yang memberikan saran/pendapat dalam rapat (sumber data : Susenas MSBP)D5 = Indeks Domain Gender dan DiskriminasiX13 = Angka perkawinan usia anak (sumber data : Susenas)X14 = Persentase pemuda perempuan berusia 16–24 tahun yang sedang menempuh pendidikan tingkat SMA ke atas (sumber data : Susenas)X15 = Persentase pemuda perempuan yang bekerja di sektor formal (sumber data : Sakernas) Domain dan Indikator IPP metode baruD1= Indeks Domain Pendidikan dan PelatihanX1 = Persentase pemuda mendapatkan pelatihan bersertifikat (sumber data : Sakernas)X2 = Persentase pemuda yang memiliki ijazah SMA/sederajat atau lebih tinggi (sumber data : Susenas)X3 = Persentase pemuda dengan keterampilan (sumber data : Susenas)D2 = Indeks Domain KesehatanX4 = Angka kesakitan pemuda (sumber data : Susenas)X5 = Persentase pemuda yang merokok (sumber data : Susenas)X6 = Persentase pemuda yang berolahraga (sumber data : Susenas Modul)X7 = Persentase remaja perempuan yang sedang Hamil (sumber data : Susenas)D3 = Indeks Domain Ketenagakerjaan layakX8 = Persentase pemuda NEET (sumber data : Sakernas)X9 = Persentase pemuda pekerja tidak penuh(sumber data : Sakernas)X10 = Rasio kewirausahaan pemudaD4 = Indeks Domain Partisipasi dan KepemimpinanX11 = Persentase pemuda yang mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan (sumber data : Susenas)X12 = Persentase pemuda aktif mengikuti organisasi (sumber data : Susenas Modul)X13 = Persentase pemuda yang menduduki posisi manajerial (sumber data : Sakernas)D5 = Indeks Domain Inklusivitas dan kesetaraan genderX14 = Rasio TPAK pemuda perempuan terhadap laki-laki(sumber data : Sakernas)X15 = Persentase pemuda penyandang disabilitas yang bekerja (sumber data : Sakernas)X16 = Persentase perkawinan anak (sumber data : Susenas Kor)
Infografis
Dataset
Fasilitasi yang dimaksud adalah berdasar pada Undang-Undang Nomor 40 tahun 2009 pasal 27: Pengembangan kewirausahaan pemuda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan melalui: pelatihan pemagangan; pembimbingan; pendampingan; kemitraan; promosi; dan/atau bantuan akses permodalan
Produk
Secara umum, IPP Indonesia tahun 2015-2023 memiliki tren yang meningkat. Hal tersebut terlihat dari nilai IPP tahun 2015 sebesar 48,67 menjadi 56,33 pada tahun 2023. Namun, kenaikan nilai IPP tahun 2023 cenderung lambat, hanya meningkat 1 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Jika dilihat selama lima tahun terakhir, hanya domain kesehatan dan kesejahteraan, serta domain gender dan diskriminasi yang mengalami peningkatan. Akan tetapi, domain partisipasi dan kepemimpinan mengalami tren yang menurun. Disisi lain, domain pendidikan dan lapangan dan kesempatan kerja relatif stagnan. Jika dilihat pada masing-masing provinsi di Indonesia, sebanyak 30 dari 34 provinsi mengalami kenaikan nilai IPP. Provinsi yang mengalami penurunan IPP meliputi Maluku Utara, Kepulauan Riau, Maluku, dan Papua. Meskipun demikian, sebagian besar provinsi di Indonesia memiliki IPP di bawah IPP nasional. Terdapat 20 provinsi yang memiliki IPP di bawah IPP nasional. Hanya terdapat 13 provinsi yang memiliki IPP di atas IPP nasional dan satu provinsi yang memiliki IPP sama dengan IPP nasional. Selain itu, masih ada kesenjangan dan ruang untuk optimasi yang perlu diatasi dengan upaya berkelanjutan dan sinergis dari semua pihak terkait. Dari lima domain pembentuk IPP (pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, lapangan dan kesempatan kerja, partisipasi dan kepemimpinan, serta gender dan diskriminasi), domain kesehatan dan kesejahteraan paling berkontribusi terhadap capaian IPP dengan nilai indeks tertinggi (70,00). Disisi lain, domain partisipasi dan kepemimpinan adalah domain terendah (43,00). Kinerja domain pendidikan mengalami stagnasi selama 5 tahun terakhir, dengan angka 70,00. Angka tersebut tidak terkonsentrasi pada zona tertentu dan relatif tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia. Namun, ketimpangan IPP antar provinsi pada domain pendidikan relatif tinggi. Nilai tertinggi IPP domain pendidikan berada di Provinsi DI Yogyakarta (90,00), sedangkan yang terendah adalah di Provinsi Papua (53,33). Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi (PT) merupakan indikator domain pendidikan terendah, dengan angka 31.45 di Provinsi Bangka Belitung. Sedangkan indikator rata-rata lama sekolah dan APK Sekolah Menengah terendah berada di Papua, dengan angka 8,08 dan 77,88.
Dataset
Indeks Pembangunan Pemuda adalah sebuah instrumen untuk memberikan gambaran kemajuan pembangunan pemuda di Indonesia. Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) merupakan indeks komposit yang memberikan gambaran terhadap tiga lapisan domain pembangunan pemuda. Ketiga hal tersebut terdiri dari pembangunan individu, pembangunan penghidupan dan kesejahteraan, serta partisipasi dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam kerangka penyusunan IPP, aspek aspek pembangunan pemuda tersebut dikelompokkan ke dalam 5 domain dengan 15 indikator penyusunnya. Kelima domain tersebut adalah (i) domain pendidikan, (ii) domain kesehatan dan kesejahteraan, (iii) domain lapangan dan kesempatan kerja, (iv) domain partisipasi dan kepemimpinan, serta (v) domain gender dan diskriminasi.D1= Indeks Domain PendidikanX1 = Rata-rata lama sekolah (sumber data : Susenas)X2 = APK sekolah menengah (sumber data : Susenas)X3 = APK perhuruan tinggi (sumber data : Susenas)D2 = Indeks Domain Kesehatan dan KesejahteraanX4 = Angka kesakitan pemuda (sumber data : Susenas)X5 = Persentase korban kejahatan (sumber data : Susenas)X6 = Persentase pemuda yang merokok (sumber data : Susenas)X7 = Persentase remaja perempuan yang sedang Hamil (sumber data : Susenas)D3 = Indeks Domain Lapangan dan Kesempatan KerjaX8 = Persentase pemuda wirausaha kerah putih (sumber data : Sakernas)X9 = Tingkat pengangguran terbuka (sumber data : Sakernas)D4 = Indeks Domain Partisipasi dan KepemimpinanX10 = Persentase pemuda yang mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan (sumber data : Susenas)X11 = Persentase pemuda yang aktif dalam organisasi (sumber data : Susenas MSBP)X12 = Persentase pemuda yang memberikan saran/pendapat dalam rapat (sumber data : Susenas MSBP)D5 = Indeks Domain Gender dan DiskriminasiX13 = Angka perkawinan usia anak (sumber data : Susenas)X14 = Persentase pemuda perempuan berusia 16–24 tahun yang sedang menempuh pendidikan tingkat SMA ke atas (sumber data : Susenas)X15 = Persentase pemuda perempuan yang bekerja di sektor formal (sumber data : Sakernas)
Produk
Indeks Pembangunan Pemuda adalah sebuah instrumen untuk memberikan gambaran kemajuan pembangunan pemuda di Indonesia. Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) merupakan indeks komposit yang memberikan gambaran terhadap tiga lapisan domain pembangunan pemuda. Ketiga hal tersebut terdiri dari pembangunan individu, pembangunan penghidupan dan kesejahteraan, serta partisipasi dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam kerangka penyusunan IPP, aspek aspek pembangunan pemuda tersebut dikelompokkan ke dalam 5 domain dengan 15 indikator penyusunnya. Kelima domain tersebut adalah (i) domain pendidikan, (ii) domain kesehatan dan kesejahteraan, (iii) domain lapangan dan kesempatan kerja, (iv) domain partisipasi dan kepemimpinan, serta (v) domain gender dan diskriminasi. Laporan Indeks Pembangunan Pemuda 2023 memberikan gambaran kemajuan pembangunan pemuda di Indonesia pada Tahun 2021 karena data yang digunakan adalah data tahun 2022.
Dataset
Indeks Pembangunan Pemuda adalah sebuah instrumen untuk memberikan gambaran kemajuan pembangunan pemuda di Indonesia. Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) merupakan indeks komposit yang memberikan gambaran terhadap tiga lapisan domain pembangunan pemuda. Ketiga hal tersebut terdiri dari pembangunan individu, pembangunan penghidupan dan kesejahteraan, serta partisipasi dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam kerangka penyusunan IPP, aspek aspek pembangunan pemuda tersebut dikelompokkan ke dalam 5 domain dengan 15 indikator penyusunnya. Kelima domain tersebut adalah (i) domain pendidikan, (ii) domain kesehatan dan kesejahteraan, (iii) domain lapangan dan kesempatan kerja, (iv) domain partisipasi dan kepemimpinan, serta (v) domain gender dan diskriminasi.D1= Indeks Domain PendidikanX1 = Rata-rata lama sekolah (sumber data : Susenas)X2 = APK sekolah menengah (sumber data : Susenas)X3 = APK perhuruan tinggi (sumber data : Susenas)D2 = Indeks Domain Kesehatan dan KesejahteraanX4 = Angka kesakitan pemuda (sumber data : Susenas)X5 = Persentase korban kejahatan (sumber data : Susenas)X6 = Persentase pemuda yang merokok (sumber data : Susenas)X7 = Persentase remaja perempuan yang sedang Hamil (sumber data : Susenas)D3 = Indeks Domain Lapangan dan Kesempatan KerjaX8 = Persentase pemuda wirausaha kerah putih (sumber data : Sakernas)X9 = Tingkat pengangguran terbuka (sumber data : Sakernas)D4 = Indeks Domain Partisipasi dan KepemimpinanX10 = Persentase pemuda yang mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan (sumber data : Susenas)X11 = Persentase pemuda yang aktif dalam organisasi (sumber data : Susenas MSBP)X12 = Persentase pemuda yang memberikan saran/pendapat dalam rapat (sumber data : Susenas MSBP)D5 = Indeks Domain Gender dan DiskriminasiX13 = Angka perkawinan usia anak (sumber data : Susenas)X14 = Persentase pemuda perempuan berusia 16–24 tahun yang sedang menempuh pendidikan tingkat SMA ke atas (sumber data : Susenas)X15 = Persentase pemuda perempuan yang bekerja di sektor formal (sumber data : Sakernas)
Produk
Indeks Pembangunan Pemuda adalah sebuah instrumen untuk memberikan gambaran kemajuan pembangunan pemuda di Indonesia. Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) merupakan indeks komposit yang memberikan gambaran terhadap tiga lapisan domain pembangunan pemuda. Ketiga hal tersebut terdiri dari pembangunan individu, pembangunan penghidupan dan kesejahteraan, serta partisipasi dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam kerangka penyusunan IPP, aspek aspek pembangunan pemuda tersebut dikelompokkan ke dalam 5 domain dengan 15 indikator penyusunnya. Kelima domain tersebut adalah (i) domain pendidikan, (ii) domain kesehatan dan kesejahteraan, (iii) domain lapangan dan kesempatan kerja, (iv) domain partisipasi dan kepemimpinan, serta (v) domain gender dan diskriminasi. Laporan Indeks Pembangunan Pemuda 2022 memberikan gambaran kemajuan pembangunan pemuda di Indonesia pada Tahun 2021 karena data yang digunakan adalah data tahun 2021.